SBY-Boediono,harapan atau kesalahan

Hari ini tepat tanggal 15 Mei 2009 akhirnya teka-teki siapa pendamping calon presiden dari partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya terjawab sudah. Prediksi yang mengatakan bahwa SBY akan meminang kalangan profesional tenyata benar. Adalah Boediono,Gubernur BI yang akhirnya dipinang oleh SBY. Yang mengherankan adalah nama ini terkesan sangat mengejutkan dengan pengakuan bahwa SBY telah mengantongi 19 nama dari usulan dari masing-masing parpolnya. Dan ternyata yang muncul adalah SBY_Boediono.

Reaksi keras justru datang dari partai pendukung koalisi SBY khususnya partai-partai berbasis Islam. Sebut saja PKS dan PAN,kedua partai ini dengan sangat lugas menolak keputusan SBY tersebut. Kalau menurut Amien Rais sebagai tokoh PAN, Boediono merupakan antek-antek faham neo liberalisme yang nantinya justru dapat menyengsarakan rakyat dengan segala kebijakannya. Sedangkan dari PKS sendiri lebih mempermasalahkan kepada komunikasi politik yang dibangun partai demokrat tidak berjalan sebagaimana mestinya,PKS menganggap bahwa munculnya nama Boediono sebelumnya tidak dikomunikasikan dengan partai-partai yang awalnya telah mengatakan kata sepakat untuk bersanding bersama Demokrat dalam pilpres 2009. Sehingga partai yang bersepakat untuk berkoalisi beranggapan suara mereka tidak didengar dalam pengambilan keputusan.

Lalu kepada SBY-Boediono kah pilihan masyrakat Indonseia? Jawabannya tentu saja bisa ya bisa tidak. Demokrat sebagai pemang Pemilu Legislatif 2009 sudah pasti akan merasa diatas angin ditambah lagi ketokohan SBY yang cukup kuat di mata masyarakat. Namun dengan mengambil Boediono sebagai pendamping SBY merupakan kebijakan yang bersifat kontroversial. Memang sekilas pasangan ini merupakan pasangan yang ideal. Seorang purnawirawan ABRI berpasangan dengan ekonom yang punya pengalaman tentu saja mengingatkan kita kepada pasangan SBY-JK pada Pilpres 2004 lalu. Dan ternyata pasangan itu menang

Sederetan kontroversi yang dibuat oleh partai Demokrat mulai dari keputusannya untuk berpisah dengan Golkar sampai dengan memilih Boediono sebagai cawapresnya tentu akan memberikan gambaran kepada masyarakat. Dan tidak akan aneh jika sebahagian masyarakat akan berpikir dengan posisinya sebagai pemenang Pemilu Legislatif kemarin maka partai Demokrat dan SBY bisa saja menjadi “sombong” dan “haus kekuasaan” tidak peduli apapun kebijakan yang mereka buat.

Ada satu kenyataan menarik terkait Pilpres Di Indonseia. Pada tahun 1999,PDI Perjuangan memenangkan Pemilu tetapi akhirnya Megawati harus puas menjadi wakil presiden dari Gus Dur walaupun akhirnya megawati bisa menjadi Presiden karena Gus Dur memilih mengundurkan diri. Tahun 2004,Golkar merupakan pemenang Pemilu 2004 namun dengan pasangan Wiranto-Wahid akhirnya kalah juga dengan SBY-JK.

Demokrat seharusnya belajar dari pemilu-pemilu sebelumnya bahwa dengan menjadi pemenang Pemilu Legislatif bukan berarti jalan SBY untuk terpilih kembali akan berjalan mulus. Demokrat harus berhati-hati dalam setiap pengambilan langkah politiknya karena sedikt saja salah langkah, modal sebagai Pemenag pun akan menjadi asa yang sia-sia.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: