Niat ku jadi dokter

Tulisan ini merupakan kutipan singkat dari perkataan dosen yang mengajar di kelas ku tadi sore. Dosen ku tersebut terlihat masih muda namun sudah menjadi ahli kandungan dengan 1 istri dan 1 anak. Dosen ku itu menurut ku punya cara yang istimewa dalam mengajar walaupun jam dia masuk sudah jam 3 sore  para siswanya masih mau menunggu untuk mengikuti jam pelajarannya. Karena saat dia mengajar dia juga sering memasukkan pesan-pesan yang bernilai positif kepada kami-kami ini yang ingin menjadi dokter. Nah lewat tulisan ini saya juga ingin menunjukkan kekaguman saya terhadap salah satu pesan beliau yang sangat membekas di pemikiran saya.

Tapi sebelumnya saya akan membahas tentang dokter saat ini. Mungkin di daerah-daerah terpencil dengan masyarakat yang pendidikannya masih terbelakang profesi dokter terlihat sangat mulia di mata mereka. Dokter dianggap makhluk yang tahu segalanya dan derajatnya diangkat setinggi-tingginya di strata sosial ekonomi kemasyarakatan.

Kalau kita merunut sejarah bangsa ini awal pergerakannya untuk mencapai kemerdekaan disutradarai oleh 3 dokter yang mendirikan organisasi Budi Utomo   sebut saja mereka dr.Wahidin SudiroHusodo,dr.Soetomo,dan dr.Ciptomangu kusumo. Lalu dimana peran dokter saat ini? Ada anggapan di masyarakat bahwa dokter saat ini kepekaan sosialnya sudah menurun, mereka lebih sibuk untuk mengurusi “warungnya” (tempat prakteknya) ketimbang memikirkan masalah sosial yang menjadi keresahan berbagai elemen masyarakat.

Pendidikan kedokteran yang seyogyanya menjadi pabrik penghasil dokter-dokter handal kini mulai dipertanyakan formulanya. Di UNHAS saat ini untuk menjadi seorang dokter butuh waktu 5 setengah tahun,setelah sistem PBL digunakan. Menurut saya profesi seorang dokter bukan profesi sembarangan karena dokter merupakan profesi yang bersentuhan langsung dengan manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang katanya paling sempurna. Apalagi sekarang sangat mudah untuk masuk fakultas kedokteran asal punya UANG!  Dulu saya berpikir orang-orang yang masuk fakultas kedokteran adalah orang-orang yang rajin,  pintar dan cerdas. Namun setelah masuk di dalamnya banyak juga orang-orang bodoh,pemalas,dan cuek terhadap pelajarannya bisa masuk fakultas kedokteran yang katanya bergengsi itu (dan kebanyakan mereka ini adalah orang-orang yang punya UANG,walaupun ada juga yang miskin tapi bertingkah seperti ini) .

Ironis memang bagi orang-orang yang sudah belajar keras untuk ikut tes masuk fakultas kedokteran ternyata mereka tidak lulus sedangkan mereka yang sudah lulus malah cuek dengan pelajarannya.

Bisa dibayangkan bakal jadi dokter apa mereka nanti? Apalgi sekarang undang-undang praktek kedokteran sudah semakin ketat. Sekarang profesi dokter sedang menjadi sorortan. Banyaknya kejadian mal praktek merupakan indikasi bahwa pendidikan dokter saat ini harus benar-benar menjunjung tinggi kualitas alumnusnya bukan kepada kuantitas alumnusnya. Orang yang bisa mengenyam pendidikan di kedokteran haruslah orang yang pantas. Memang semua orang bakal merasa pantas tapi mampukah mereka untuk melewati masa-masa pendidikan dokter yang begitu berat dengan tanggung jawab yang begitu besar.

Apa yang menjadi orientasi mereka? Uang,Rumah mewah,nama baik dan hal-hal lain yang bersifat materi? atau bahkan mereka sendiri tidak tahu kenapa mereka masuk fakultas kedokteran? Karena banyak juga orang-orang yang masuk fakultas kedokteran karena “dijebloskan” oleh orang tua mereka tanpa memandang apakah anak saya ini mampu berproses dengan ilmu kedokteran. Ada juga yang orang tuanya dokter akhirnya anaknya juga harus jadi dokter agar ada yang mewarisi kerajaan yang sudah dibangun olehnya tanpa berpikir (sekali lagi) apa anak saya ini bisa berproses dengan ilmu kedokteran

Nah disinilah pesan dosen saya tadi sore yang memberikan saya inspirasi untuk menulis ini. Pesan dosen saya berbunyi seperti ini

Ketika kamu memilih untuk menjadi seorang dokter,maka kamu telah mewakafkan seluruh jiwa dan raga mu untuk mengabdi kepada masyarakat namun ketika hal itu mendapat balasan berupa materi atau peningkatan derajat itu hanya dampak dari pengabdian kamu dan bukan yang utama. Yang utama tentu saja datangnya dari Allah.

Terima kasih untuk dr. Nasruddin Sp.OG yang telah memberikan pesan ini…

Dan buat teman-teman yang saat ini sedang mengenyam pendidikan di fakultas kedokteran dimana pun berada…

semoga tulisan ini bisa menjadi perenungan buat kita semua.

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: