Mahasiswa dan Demo

Kemarin tepatnya tanggal 2 Mei merupakan hari pendidikan nasional. Hari dimana kita sepatutnya merefleksikan dunia pendidikan kita untuk mencoba mencari akar permasalan dunia pendidikan yang nantinya bisa kita renungkan bersama solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Barusan juga saya menonton televisi yang menayangkn profil tokoh pendidikan nasional yang merupakan peletak dasar konstitusional pendidikan bangsa Indonesia. Siapa dia? Yup Ki Hajar Dewantara,kalau saya melihat acara tersbut dimana di masa tersebut bapak Ki hajar Dewantara mau mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan bangsa ini maka sungguh malu kita generasi sekarang melihat perjuangan beliau yang tidak kenal lelah,tidak kenal materi dan sangat penuh dengan ketulusan.

Pertanyaan selanjutnya apakah di masa ini atau di masa depan akan  lahir Ki Hajar Dewantara yang baru yang semangatnya setidaknya menyamai beliau. Salah satu calonnya tentu kita,sapa kita? Yang saya maksud adalah mahasiswa. Golongan di masyarakat yang disebut mahasiswa secara umum berarti kelompok masyarakat yang sedang menjalani pendidkan di perguruan tinggi. Identitas mahasiswa saat ini sedang mengalami banyak goncangan di tengah hiruk pikuk kehidupan bermasyarakat. Mengapa saya katakan demikian? Karena mahasiswa sekarang sedang kehilangan jati dirinya.

Pada awal saya menjadi mahasiswa baru saya diberitahu bahwa mahasiswa sangat erat kaitannya dengan erat apa yang disebut dengan agent of change. Sudahkah demikian? Setelah hampir 2 tahun menjadi mahasiswa apa yang saya lihat justru sangat berbeda.

Demo,sebuah kata yang apabila kita tanyakan kepada masyarakat maka kata selanjutnya yang akan mereka katakan pasti mahasiswa. Karena memang sudah mengakar di otak mereka bahwa yang sering demo itu adalah mahasiswa walaupun kita ambil contoh kaum buruh pun sebenarnya juga suka melakukan demo. Demo menurut sebagian teman saya yang mengaku sebagai aktivis merupakan sebuah alat perjuangan. Alat perjuangan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat. Tapi?????????????? apakah demo tersebut sudah cara yang efektif dan efisien di zaman sekarang ini dimana masyrakat pun mulai skeptis dengan apa yang dilakukan oleh mahasiswa saya yakin dan percaya bahwa niat yang mendasari demo adalah baik karena sesungguhnya apabila demo, yang diperjuangkan tentunya setidaknya merupakan nilai yang menganut unsur keadilan. Tetapi dalam pelaksanannya mulai bergeser dari niat tersebut. Mulai dari demo yang memacetkan jalanan kareana jalanannya ditutup sampai demo yang justru berujung kericuhan dan dan aksi anarkis, Saya justru berpikir apakah ini yang diinginkan oleh masyarakat yang menurut kita sedang kita perjuangkan aspirasinya.

Belum lagi saat kita demo kita meninggalkan kewajiban kita untuk belajar. Terus kalau kita tidak belajar kita mau jadi apa?? Pendemo? Saya belum pernah mendengar menjadi pendemo adalah sebuah cita-cita atau bahkan telah menjadi sebuah profesi.

Mungkin setelah membaca uraian singkat saya di atas anda kan berpikir bahwa saya adalah mahasiswa yang anti sosial dan hanya mementingkan diri saya sendiri. Penilaian itu terserah anda tapi yang pasti menurut saya ada sesuatu yang harus kita rubah untuk mulai menggunakan otak kita dalam berjuang ketimbang lebih mementingkan otot. Lebih mementingkan keefektifan ketimbang asal jadi. Caranya?

Menurut saya untuk saat ini adalah mari kita berjuang bersama rakyat. Sekarang struktur sosial menempatkan mahasiswa,pemerintah, dan masyarakat didalam posisnya masing-masing. Karena kita mahasiswa terkadang merasa merasa eksklusif dengan status kita menjadi mahasiswa. Seharus nya kita dan masyarakat harus berada dalam satu garis karena sesungguhnya kita pun bagian dari masyarakat. Ketika hal itu bisa terjadi maka yakinlah perjuangan kita akan jauh lebih efektif dan efisien.Selanjutnya mari kita lebih banyak bekerja ketimbang berbicara. “jangan bisanya cuman bicara” merupakan ungkapan ungkapan yang sudah biasa kita dengar namun dalam prakteknya kita masih tetap saja seperti itu. Dalam berteori kita memang jago tetapi dalam pengaplikasiannya sungguh sangat memprihatinkan. Contohnya kita sering mengumandangkan anti korupsi tetapi kita pun masih sering mengorupsi waktu belajar kita belum lagi tindakan-tindakan seperti nitip absen,nyontek dan sebagainya. Kita mungkin akan berkata itu adalah hal yang wajar,namanya saja anak muda dan ungkapan lainnya,namun sampai kapan kita akan membuat toleransi-toleransi untuk diri kita.  Yang justru membuat bangsa ini sangat bangga dengan statusnya sebagai negara berkembang (gak maju-maju).

Tulisan ini hanya sebuah pandangan bahwa di tengah era seperti ini kita,mahasiswa harus mulai mengintrospeksi diri dan mulai mengevaluaisi arah perjuangan kita. Semoga kita bisa mewarisi semangat dan cara berpikir seorang Ki Hajar Dewantara untuk Indonesia yang lebih baik.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Merdeka!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: